Wednesday, July 9, 2014

CASTRO: ECONOMIC INDEPENDENCE UNDER THE WAVING GAY FLAG

Windy and freezing: that place was no league for any Southeast Asians or basically any Pacific Islanders with a high intolerance of a bone puncturing temperature. As much as I oppose the idea of a place being below 10 degrees Celsius, I knew I had to find the truth in a rumor. I had to let both of my eyes witness what most of my friends at Humboldt State University had been buzzing about this place. The Castro District was the place I had to visit before leaving the United States.

Some Castro locals threw a glance of smile at me few minutes after dropping off of the MUNI train from downtown San Francisco, probably because they knew I was a tourist. The locals at San Francisco are generally friendly (excluding some people I met at Chinatown), but people at the Castro are even more hospitable. They gave me complete direction to get to somewhere and didn't mind clarifying information. To my perspective, the people alone can be one tourism attraction. Can you imagine getting great reviews of a place, seeing those bombastic scenery pictures online, but the people are told to be sour and not helpful? It surely would lower the interest (at least, my interest would).
Series of European-esque Building lining up, nearby MUNI station. Castro District.

During my travel, I have been to several major cities in the West Coast and some in the East. However, I must say the Castro District is special.  This is not because it has the most breathtaking scenery or the best building architectures, but because the story lives within each corner of it. Unlike numbers of places in the world which disregard sexuality topic, The Castro is the first place in the USA that celebrates the diversity in sexuality and utilizes it to boost the local economic growth for decades. The bars, cafes, stores, flower shops, cinemas and housings are implementing a so-called “gay theme”: the building paints were bold, rather-provoking taglines hanging at the doors, and ALL buildings were accessorized by the rainbow flags (the multicolored flag known as the international symbol of LGBT communities around the globe). To put the cherry on top, at the end of the main street, there was a gigantic rainbow flag, waving in pride, greeting every driver and pedestrian coming into the district. 


The rainbow flags were everywhere!

Interesting decoration for your tea table

The legendary mother-of Rainbow Flag waving.


At The Castro, I witnessed people with similar sexes holding hands, hugging and kissing each other’s good night, eating dinner on a bench together. I had a few random chats with the locals and most of them implied that The Castro was the place where everybody felt belonged. 

Some same-sex couples enjoying the windy late afternoon. Not our everyday scene, indeed, but the air was thick with love

This is an amazing experience. As a person with a deep concern towards LGBT discrimination, being a part of The Castro community even only for several hours gave me hope that one day, the whole world, including Indonesia (one of the most conservative places in the world I must say), will be a better place for my LGBT brothers and sisters. If The Castro district can do it and make the best of it, why can’t the rest of the world?
"Let's Bring HIV Out of The Closet": a thought-provoking line on a billboard, right above a building with picturesque painting

Me with the rainbow flag

In front of the very first movie theater of Castro

"These men ask for just the same thing: fairness, and fairness only. This is, so far as in my power, they, and all others, shall have." 
- Abraham Lincoln

Sunday, January 19, 2014

MY USA JOURNAL #2 (Jurnal Amerika-ku ke 2)

Arcata, 19 Januari 2014. 9:16 AM
Dear Journal,

Kita semua tahu bahwa api itu bukan barang berharga di Indonesia. Malah, api dianggap musuh bagi segelintir orang yang tinggal di pemukiman padat lantaran takut akan terjadinya kebakaran. Tapi disini, di Kota Arcata, api mungkin menjadi barang berharga bagi mereka. Terbukti ketika saya menghadiri sebuah kumpul-kumpul remaja di sebuah pantai bernama Mad River Beach (Pantai Sungai Gila) untuk menghabiskan malam bersama teman-teman yang baru saja saya kenal. Ya! Baru saja saya kenal!!!

Kalian harus tahu bahwa legenda itu benar. Legenda bahwa orang Amerika di Pesisir Barat (West Coast) adalah orang-orang yang sangat ramah dan mudah untuk diajak berkenalan, dan bukan berteman. Mengapa? Karena disini ada berlapis tingkatan untuk mencari teman atau sahabat. Yang paling umum adalah istilah “acquaintance” atau kenalan. Kamu bisa saja berkenalan dengan banyak orang dan orang itu mengenal kamu dan ramah pada-mu tetapi belum tentu dia menganggapmu teman. Well, ini tipikal sih, tapi memang butuh waktu yang lama untuk merubah status kenalan menjadi teman atau bahkan sahabat.

Okay, balik lagi. Minggu ini sudah 2 kali saya mengunjungi pantai Sungai Gila itu. Sayangnya di waktu ke dua kalinya saya kesana, kelompok kami didominasi oleh missioners atau orang yang menjadi agen penyebar agama Kristiani Mormon. Yah jadi kami tidak bisa berlaku sesuka kami dan membahas topic-topik sensitif mengenai beberapa hal. Saya pikir semua orang Amerika itu berpikiran terbuka dan mau membahas berbagai hal. Tapi yah ternyata variasi masyarakatnya sama saja.
Okay, sampai bertemu di tulisan selanjutnya!

Salam hangat dari dinginnya kota Arcata,

- Dery

it was ALIVE. Found it in Wildlife Department building


MY FIRST SMORSE!!


meet Tasha and Molly :")

My new sweatshirt!

on our way to the Mad River Beach

Wednesday, January 15, 2014

MY USA JOURNAL #1 (JURNAL AMERIKA-KU KE-1)


Arcata, 15 Januari 2014. 7:20 AM

Bahkan hari ini pun saya masih merasa perjalanan sepanjang dan sejauh ini masih seperti mimpi. Saya masih sering menampar lembut pipi saya atau bahkan mencubit tangan saya sendiri hanya untuk memastikan bahwa saya sedang tidak bermimpi, atau bahkan mati dan arwah saya sedang mengambang ke Negara yang dari dulu ingin saya kunjungi tapi saya keburu mati.

Tapi tidak, ternyata semua hal ini bukan lah mimpi. Saya ingat betul kelelahan yang saya alami pada penerbangan yang ekstra panjang dan ekstra melelahkan itu. Bisa dibayangkan bahwa saya harus singgah di dua Negara terlebih dahulu dan melayang-layang selama 16 jam lebih diatas Samudera Pasifik, yang kata orang adalah samudera terluas di muka Bumi, untuk menetap di Negara Paman Sam ini. Saya tahu pula bahwa saya bukanlah arwah penasaran yang ingin mengunjungi Negara Impian saya karena arwah biasanya tidak bisa merasa kelelahan, kan?

Hari ini saya akan menjalani Hari Orientasi Pertama saya sebagai mahasiswa Internasional dari Humboldt State University. Gugup? Mungkin tidak. Hanya saja saya masih harus beradaptasi secara bahasa disini karena saya tidak hanya akan berinteraksi dengan orang Amerika Serikat-nya saja, tapi juga mahasiswa internasional lain yang berbahasa Inggris dengan aksen yang berbeda-beda, dan ini saya rasa tidak diajarkan di bangku sekolah.

Baiklah, hari ini cukup sekian cerita yang saya bagikan. Masih kurang lebih 100-an hari saya tinggal disini dan akan ada lebih banyak cerita yang akan saya hadirkan disini (semoga saja).

Salam hangat dari dinginnya kota Arcata,
Dery

Sombong banget Changi Intl Airport. Masa' kereta dimasukin kedalam Airport?

interiornya Skytrain nya Changi nih


di pesawat dari Singapore - Hong Kong. Ada TV dan banyak film yang bisa ditonton 

Bye Singapore!

cocok untuk diva Kamar Mandi kayak gue :p 

@ Hong Kong Intl Airport

diatas Samudera Pasifik, di waktu fajar

Hello, Sun!

pakai pesawat kecil dengan baling baling besar menuju bandara terakhir

Hello! Sampai juga akhirnya

didepan airport of Arcata

Salah satu pantainya. Dan pantai ini langsung menuju Samudera Pasifik. 

petualangan hari pertama. sweaternya agak lebay sih

The Redwood Bowl



Hello, HSU!

The Famous Jolly Giant Commons

Wednesday, July 24, 2013

TINDAKAN PREEMPTIVE TERHADAP KESULITAN KESULITAN PPL PKM

Pelajaran untuk adik-adik semester 5 prodi pendidikan di UNJ, khususnya pendidikan bahasa inggris UNJ. 

JANGAN PERNAH MENUNGGU ORANG LAIN UNTUK MENGURUSI KALIAN DAN BERINISIATIFLAH UNTUK BERBAGAI HAL, khususnya dalam hal PPL/PKM! 

  1. Demi menghindari penolakan dari pihak sekolah, lebih baik anda memberikan rekomendasi sekolah-sekolah dimana anda ingin PPL DARI JAUH HARI sebelum pembukaan PPL. 
  2. Setelah itu, lakukan dialog informal dengan pihak sekolah mengenai niat anda untuk ber-PPL/PKM di sekolah tersebut agar anda tidak keduluan dengan fakultas lain yang juga berlomba dengan anda dalam hal mendapatkan sekolah tempat PPL.
  3. Setelah semua itu beres, sampaikan ke Jurusan mengenai rekomendasi sekolah pilihan anda ke Jurusan agar diteruskan kepada koordinator PPL fakultas dan UPT PPL (sekolah tersebut disarankan berdomisili dengan jarak terdekat dengan Kampus).

Dengan 3 langkah simpel ini, kesempatan kalian untuk ditempatkan di sekolah yang nyaman untuk kalian PPL PKM akan lebih mudah tercapai.
 
Jangan sampai adik adik kami mengalami kejadian yang dialami oleh kami kami yang mengalami kesulitan mendapatkan tempat PPL/PKM.

Mari budayakan jarkom sebagai langkah preemptive terhadap kesulitan kesulitan potensial yang mungkin akan datang. Sekian dan semoga berguna.

Saturday, July 20, 2013

Boyfriend/ girlfriend/ spouses? should we really put label on it?

I know this is just some kind of midnight drunk words of mind, but people say that "drunk words are sober mind" right?

So, I kind of come to this conclusion that a genuine relationship does not necessarily need a label, a status, or even government admittance under the law of marriage. When two entities, regardless to sexual identity, race, clans, social class whatsoever, care about each other and do not want to let any bad things happen to each other, BAM they are in love and already are together as a couple.

Maybe a lot of people would think of it this way:
"Well if there is no label attached on a relationship, how can they be loyal to each other when there is no control?"

Well, the answer is simple:
"If you loved someone so much, cheating would never be in your both sane and insane mind." The love itself will keep them away from hurting each other.

Besides, there is no guarantee that "labels" will keep a married man from cheating on his wife and vice versa. 

Saturday, June 8, 2013

Global UGRAD Program: A self-marketing Essay

Hey calon FULBRIGHTERS/UGRADERS!

Kali ini saya mau berbagi mengenai pahit-getirnya membuat essay. Essay-essay ini adalah salah satu dari beberapa ketentuan yang diperlukan untuk melengkapi formulir kalian nanti.

It took me three months to develop these compositions

Benar. Essay-essay tersebut saya buat selama kurang lebih 3 bulan. Kenapa? mungkin ini salah saya kali ya, karena terlalu pengen "marketing" diri saya sampai harus sebegitu lama mengkomposisi tulisan.

Seluruh essay saya dibuat berdasarkan prinsip VESPA yang saya ramu sendiri.

V: Values or principles in life. Apa sih yang membuat kalian itu bangun pagi dan termotivasi untuk beraktivitas? "motor" atau penggerak kalian itu apa/ siapa? Misalnya, "Our life is not our own, said Sonmi in Cloud Atlas movie. It gives me an idea that I was not alive because of my own willingness to be alive. I believe in something bigger and greater in the universe that controls me and my fate. I want to please whoever that is, to become a good person and helpful one, so that "whatever that is" will not regret to make me alive." Tulis deh di essay kalian.

E: Experience that changes you to become a better person (the best one). Pernah punya "life changing moment"? Misalnya, pernah dagang bakso di pinggir jalan untuk nambah biaya sekolah, atau pernah ngumpulin koran bekas untuk bakti sosial? Nah, kalo pernah punya, ditulis deh di essay kalian.

S: Selling point personalities. Always keep in your minds that you are currently "selling" yourself to the panelists. Ini adalah salah satu bagian dimana kalian harus benar benar menunjukkan kalau kalian layak untuk terpilih. Bagian ini bisa kalian hubungkan dengan bagian kedua yaitu experience in life. Misalnya, karena kalian pernah dagang bakso di pinggir jalan, kalian menjadi lebih menghargai uang dan memiliki sifat hemat diri. Tetapi, kalau bisa pilih kepribadian kalian yang kira kira membuat kalian bisa survive  di negara orang. Misalnya kalian punya sifat open minded dimana kalian tidak risih dengan lingkungan yang penuh dengan kaum gay atau lesbian, atau lingkungan baru dengan situasi baru. Itu bisa menjual banget loh!

P: Praising their country (but not becoming an ass-kisser). Disini bukan berarti kalian jadi penjilat ya. Tuliskan alasan alasan positif kenapa kalian mau belajar di Amerika? Misalnya, karena kalian begitu mendambakan negara yang penuh toleransi, negara yang bebas tapi teratur, bertemu orang orang yang lebih banyak lagi, atau merasakan hidup ditengah kebudayaan Amerika. Atau, kalian bisa juga menghubungkan dengan kesuksesan Amerika di bidang kebebasan beragama, berpolitik dan lainnya.

A: Aspired future plan(s). Maksudnya, kalian punya cita-cita apa nih sepulang dari Amerika? Misalnya pengen berbagi ilmu dengan teman teman jurusan, atau pengen bikin komunitas kecil pecinta buku. Ga perlu yang muluk muluk. Yang penting, program kalian itu nyata dan sangat mungkin untuk dilaksanakan.

Nah, dalam membuat essay-essay ini, saya pakai semua aspek itu hingga beginilah hasilnya, tapi sebelum membaca, saya perlu ingatkan untik TIDAK MENGCOPY/ MEMINDAHKAN SEDIKIT ATAU SEBAGIAN DARI TULISAN INI. Remember, Plagiarism is the highest crime in education world. Tujuan dari mengupload tulisan ini adalah agar kalian bisa mempelajari bagian-bagian serta alurnya. Pick your own story and you will be fabulous:

Ini personal statement saya (dengan sedikit perubahan)


Ini essay ke-dua mengenai Exhange Preparedness:
Ini essay ke-tiga. Ada 2 pertanyaan dan kita diminta untuk menjawab 1 pertanyaan dalam bentuk essay:


I may not be the best, but at least I have tried to be one.

Mungkin itu yang bisa saya share untuk saat ini. Nanti kalau saya sudah sampai di Amerika, saya pasti akan lebih banyak berbagi cerita.
Kalau ada pertanyaan, bisa langsung ditanyakan ke kontak kontak berikut:

email: deryrov (at) yahoo (dot) com
twitter: @_deryrov
facebook: Dery Dey Rovino

Sukses untuk kita semua!


Best regards,
Dery Rovino
Awardee -  Fulbright Global Undergraduate Exchange Program

Friday, May 24, 2013

Global Undergraduate Exchange Program : tips and tricks

Hey fellas!

Di kesempatan kali ini, saya akan bagikan tips dan trik yang saya praktekkan saat mencoba beasiswa Global Undergraduate Exchange Program, dari proses paling awal (seleksi dokumen) sampai paling akhir. 


Penjelasan tersebut saya buat dalam format power point, jadi anda bisa download dan bagikan ke teman-teman yang mungkin membutuhkan

Semoga bermanfaat!

Berikut ini link yang bisa diakses untuk mendownload formulir Global Undergraduate Exchange Program: 
Link to AMINEF page: Program Application Form


Don't hesitate to contact me if you have any questions regarding to the scholarship.
Blog: deryrov.blogspot.com
Twitter: @_deryrov
Facebook: Dery Rovino (Dery Rovino Anwar)
Email: deryrov (at) yahoo (dot) com



*PS: Don't forget to comment! tell me how you think of it.